Thursday, April 1, 2010

Lagu Reject yang sempurna


Katon Bagaskara mengeluarkan Album solonya bukan ketika Kla Project terpuruk. Saat itu Kla Project masih mendominasi musik Indonesia. Percaya atau tidak lagu-lagu yang ada di Album ini merupakan lagu - lagu yang pernah di sodorkan ke Kla Project namun di tolak. Salah satu lagu yang booming saat itu adalah "Dinda... Dimana" bukan hanya easy listening tapi juga unik. Yang jelas memang beda dari pakem Kla yang puitis dan musik yang melodius. Pembukaan lagu ini langsung di hentak oleh Reffrainnya dan mengajak setiap orang untuk ikut bernyanyi.

"Dinda dimanakan kau berada
Rindu aku ingin jumpa.....
"


Dari sekian lagu yang ada di album ini, saya justru tertarik dengan lagu "Di Relung Kamarku". Kesan subjektif yang saya dapat dari lagu ini adalah, sederhana, jujur dan puitis. Sederhana karena tidak terlalu melibatkan alat musik. sepanjang lagu ini hanya di dominasi petikan guitar. Cara menyampaikan pesan "kesabaran & kesetiaan" pun sangat jujur dan di balut dengan kata-kata puitis lewat pengandaian bunga mawar yang layu karena terlalu setia menunggu namun tidak mendapatkan perhatian yang cukup besar, sebesar hatinya yang sabar menunggu & menunggu (capek deh). Bagi saya, lagu ini merupakan lagu rejected yang paling sempurna. Sampai sekarang masih layak untuk di nikmati.

Di Relung Kamarku

Di relung relung kamarku
Kulihat kau tersenyum
Berangkaian kata rindu
Puisiku untukmu

Kasih adakah waktu tersisa
Untuk dapat saling bicara
Tentang kembang mawar kita
Yang berwarna jingga

Kini dia mekar kelopaknya
Sayang tersia sia
Walau setia di dalam makna

Tidakkah kau tahu
Kuselalu mencari waktu
‘Tuk bertemu denganmu
Lihatlah kedua mataku
Bersinar resah dan jiwaku telah lelah

Ataukah karena
Slalu kubersikap seperti adanya
Yang lemah dan berhias kesalahan
Tiada sempurna

Download: Mp3 format

Mengenang seorang rekan yang dulu (11 tahun yang lalu) dengan ikhlas mengiring suara falsku dengan permainan guitar accousticnya di Balkon Asrama UI (Blok C Lantai 3 kalo nggak salah, sekarang sudah jadi asrama cewek)

Tuesday, March 2, 2010

Glassy Effect

Membuat Pin Rock dengan effect Glassy. Hanya dengan 6 langkah sederhana & mudah.



  1. Buat Lingkaran menggunakan Ellipse Tool (Tekan L) berukuran 70px X 70 px.

  2. (Abaikan langkah 2 &3 jika Anda sudah bisa membuat gradasi warna seperti gambar no. 3) Gunakan Swatches untuk memberi warna gradasi linier putih-hitam. dengan Gradient setting Type: Linier, Angle: -90.

  3. Aktifkan Gradient kemudian ganti warna putih pada lingkaran dengan warna A. Ganti warna hitam dengan warna B.


  4. Tambahkan tulisan Rock (atau tulisan lainnya). Aktifkan tranparency (window - transparency), dengan setting overlay, Opacity: 100%)

  5. Buat bentuk elips seperti gambar no. 5 (gunakan Ellipse Tool), dengan gradasi linier dari hitam ke putih (Type: Linier, Angle: 90). Arah gradasi berlawanan dengan gambar no. 2, kemudian

  6. Untuk memberikan effect Glassy pada elips, Aktifkan tranparency dengan setting setting overlay, Opacity: 30%)



(Tips: Tambahkan Drop Shadow agar terlihat lebih hidup)


Kombinasi warna lainnya:

Tuesday, May 12, 2009

5 Interesting Fonts from the Band


Yang paling gue inget dari Scorpions adalah “Wind Of Change” lagu yang terinspirasi dari perubahan politik di Eropa sana. Sebenarnya ini bukan satu-satunya lagu yang paling tenar dari Scorpions. Masih ada “Still Loving You” yang merupakan lagu wajib bagi gitaris pemula. Oke deh gue nggak mau membahas lebih dalam soal sejarah band tua itu. Bentuk Fonts yang khas Scorpions banget itu (No 1) bisa di dapet dari Font Lady Starlight. Kalau di tanya siapa duluan yang lahir, Logo Scorpions atau Lady Starlight? Wah sorry banget man! Gue nggak punya data yang valid & patut di share soal ini. Bisa jadi Scorpions pakai font Lady Starlight, atau mungkin sebaliknya.

Logo No. 2, 3, 5, 6 bisa di dapet dari Font Famous Logo. Sebenarnya nggak Cuma 4 logo itu aja yang ada di Font Famous Logo. Masih ada beberapa logo produk lainnya tapi gue sengaja preview yang ada kaitannya dengan musik seperti; Iron Maiden, Oasis, logo yang selalu jadi bandul kalung anak Metal Jadul (kalau nggak salah ya) dan yang terakhir judul album Nirvana, (“Nevermind”) band yang di motori vokalis legendaris Kurt Cobain. Meskipun ia tewas akibat kebodohannya (baca: bunuh diri) tapi Kurt di anggap berhasil memberi warna baru bagi musik dunia. Aliran musik Grunge, yang nyeleneh &, terkesan asal-asalan ini pernah jadi trend tapi juga dianggap sebagai perusak pakem Guitar Hero. Dewa gitar seperti Yngwie Malmsteen, Gary Moore & Joe Satriani sempat di buat tenggelam pada era Cobain CS. Tapi ah sudahlah, memang sudah seharusnya musik terus berubah & berkembang.

Logo No. 4 gue ambil dari font yang punya nama sama dengan band nya Evanesscene. Kalo Logo No. 7 itu merupakan judul album dari band yang dapet julukan “The Most Dengerous Band in the World.” Ya mereka adalah Gun’s ‘N Roses. Mereka punya beberapa hits yang gue suka seperti; Sweet Child O’mine, Don’t Cry, Knockin On Heavens Door, November Rain and so on - and so on deh. Nama fontnya Edition regular. Karakter font nya kurus tapi tegas, cocok untuk mengungkapkan pesan yang lumayan panjang karena nggak makan tempat.

Terakhir, band anak negeri, Nidji. Meskipun gue bukan Nidjiholic (karena sampai sekarang gue baru bisa suka 1 lagu saja dari karya mereka, kalo gak salah judulnya “Akhir Cinta Abadi” ), tapi gak ada salahnya gue share font apa yang bisa di gunakan untuk membuat logo Nidji. Logo yang simple & keren (masih menurut gue) ini bisa di kreasikan menggunakan Font Danube. Selamat Berkreasi di Tahun Indonesia Kreatif 2009.

Download Free Fonts :
Evanesscene
Danube
Edition regular
Famous Logo
Lady Starlight